▦ Inspirasi Desa 5 Februari 2026

Melon Wisata Desa Gabus: Menawarkan Keunikan Tanpa Harus Membebani Kantong

⏱ 3 menit baca 👁 6 dilihat
Melon Wisata Desa Gabus: Menawarkan Keunikan Tanpa Harus Membebani Kantong
Peluncuran program digitalisasi layanan administrasi di Balai Desa Bandung (Foto: Tim Dokumentasi Desa)
Bagikan: f X WA

SRAGEN, Kabarsukowati – Begitu memasuki area greenhouse milik BUMDes Gabus Makmur di Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, aroma segar dari melon langsung menyapa. Di bawah penutup plastik UV yang melindungi, ribuan buah melon menggantung dengan rapi, siap dipanen.

Melon yang dibudidayakan di sini bukanlah sembarang melon. Ada dua jenis premium yang menjadi andalan, yakni Amanda dan Sweet Hammy (The Blues). Keduanya dikenal memiliki tekstur renyah dan tingkat kemanisan yang sangat tinggi.

“Kemanisannya sudah sangat normal, bahkan sudah di atas Brix 15,” ungkap Pak Sunar, Ketua Ketahanan Pangan BUMDes Gabus Makmur, sembari menunjukkan buah melon yang siap dipetik.

Meski harga melon premium di pasar bisa mencapai Rp25.000 per kilogram, BUMDes Gabus Makmur memilih untuk lebih merakyat. Mereka menjualnya dengan harga yang jauh lebih bersahabat, mulai Rp20.000 per kilogram. Bahkan, untuk yang istimewa, hanya dibanderol sekitar Rp22.000 per kilogram. Menurut Pak Sunar, harga ini lebih bersahabat untuk masyarakat lokal. “Kami tidak mau jual mahal-mahal, yang penting familiar dulu dengan pembeli sekitar. Belum tega kalau mau jual semahal tempat lain,” ujar Pak Sunar dengan nada rendah hati.

Meskipun destinasi wisata petik melon ini baru akan dibuka secara resmi besok, antusiasme masyarakat sudah luar biasa. Bahkan, seorang pembeli sudah memborong 50 buah melon pada pagi hari. Ternyata, strategi harga yang merakyat ini berhasil, tidak hanya menggerakkan perekonomian desa tetapi juga memungkinkan warga menikmati melon kualitas ekspor dengan harga yang sangat terjangkau.

Dengan luas lahan sekitar 35 meter persegi, BUMDes ini menanam sekitar 940 batang melon di dalam greenhouse. Menurut Pak Sunar, menanam melon di dalam greenhouse lebih terkontrol dan mudah dirawat dibandingkan dengan lahan terbuka, meskipun investasi awalnya lebih besar. “Kami ini petani tulen. Merawat di dalam greenhouse ternyata lebih mudah kontrolnya dibanding di luar,” jelasnya.

Namun, melon bukanlah satu-satunya komoditas yang dikelola oleh BUMDes Gabus Makmur. Di sisi selatan Desa Gabus, BUMDes juga tengah mengelola satu hektar lahan yang ditanami 1.600 pohon Pisang Cavendish, yang saat ini sudah tumbuh setinggi satu meter. Tak hanya itu, di sisi utara desa, ada dua hektar lahan tebu yang juga dikelola menggunakan plafon Dana Desa dalam program Ketahanan Pangan (Ketapang).

Pak Sunar optimis mengenai prospek jangka panjang usaha ini. Selain sudah menjalin hubungan dengan tengkulak non-formal hingga tingkat provinsi, BUMDes juga tengah menargetkan pasar potensial melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Beberapa pihak MBG sudah minta tester. Ke depan, selain melon, pisang Cavendish kami juga akan diarahkan ke sana. Saat ini kami sudah punya pelanggan tetap untuk skala pribadi, tinggal nanti kalau sudah panen raya, BUMDes yang masuk,” tambah Pak Sunar.

Langkah Desa Gabus ini menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat dan penuh perhatian, Dana Desa dapat menjadi aset produktif yang memberikan manfaat bagi seluruh warga. Satu petik melon, satu langkah maju menuju kesejahteraan.

Joko Wahono, Pendamping Desa Kecamatan Ngrampal, mengapresiasi upaya BUMDes Gabus Makmur. Ia berharap, program ketahanan pangan yang bersumber dari Dana Desa 2025 bisa terus berkembang meski anggaran khusus untuk BUMDes di tahun 2026 tidak lagi tersedia dari Dana Desa karena efisiensi anggaran yang hanya dialokasikan sekitar 300 juta setiap desa.